Jumat, 08 Mei 2015

DAIN Daun Afrika Inovasi Nusantara

Nama ku DAIN kependekan dari Daun Afrika Inovasi Nusantara. Kata orang pintar (bilang aja dukun) saya cocok menjalankan bisnis rumput-rumputan. Mungkin maksudnya tumbuhan yang tidak besar dan bukan diambil kayunya (kehutanan) atau buahnya (perkebunan). Jadi, rumput itu maksudnya ya dipanen daunnya saja atau mungkin akarnya.

Saya sih tidak percaya (mengimani) dukun perempuan yang raut wajahnya mirip peramal gypsi di film tivi, tetapi terawangan cenayang itu cocok sekali dengan studi yang saya tekuni, yaitu ilmu dan teknologi hayati. Juga selaras dengan pendidikan luar sekolah yang pernah saya dalami, yaitu kursus herbal di Karyasari.

Lalu dengan latar belakangan pendidikan formal dan non-formal yang mendukung itu, mengapa saya tidak fokus menjadi pengobat herbal? Ya karena tidak tahan menghadapi orang sakit yang inginnya cespleng sembuh. Pada hakikatnya, pengobatan herbal itu adalah pengobatan holistik. Sakit yang sama pada orang yang berbeda boleh jadi memerlukan rangkaian simplisia tanaman yang berbeda. Sakit yang sama itu sesungguhnya tidak pernah sama. Setiap orang unik, maka penyakit pun serupa tapi tak sama. Begitulah paradigma pengobatan dengan herbal.

Itulah bedanya dengan pengobatan medis yang menggunakan obat yang kerjanya spesifik, sangat tertentu organ targetnya. Siapa pun orangnya, (gejala) sakit kepala ya dapat diobati dengan paracetamol. Begitulah industri kesehatan dan farmasi kosmologi barat.

Meski pun saya tidak praktik pengobatan alternatif, wawasan tumbuhan herbal tetap merupakan keseharian saya. Sampai saya menemukan tumbuhan sakti mandraguna, ialah daun afrika. Maka apa pun penyakitnya, siapa pun orangnya, bagaimana pun keadaannya, saya meresepkan daun afrika untuk kesembuhannya.

Karena begitu getolnya mendorong sosialisasi daun afrika (Vernonia amygdalina), maka nama saya pun kini mengandung arti yang lain. Dain yang dulu mungkin maksudnya pembawa berita (da’i) kini menjadi Daun Afrika Inovasi Nusantara. Hahaha.

Daun afrika ini memang sangat berkhasiat dan kerjanya pun cepat dibandingkan herbal lainnya. Daun afrika tidak memerlukan pengolahan untuk mendapatkan khasiatnya, cukup langsung dilalap.

Lalu di mana INOVASInya?
Iya, saya telah mengolah daun afrika menjadi beragam produk. Pertama dulu telah diaplikasikan menjadi minuman fungsional untuk tidur lebih nyenyak dan bangun lebih nyentak. (maksak hehe)

Selain minuman, saya juga telah membuat sabun wajah dengan bahan baku daun afrika. Sekarang saya sedang mencoba mengembangkan daun afrika menjadi suatu sistem perawatan kecantikan tubuh dan wajah untuk rumah perawatan alias salon/spa. Inovasi lainnya yang bakal segera terwujud adalah pemanfaatan daun afrika untuk minuman fungsional dalam bentuk serbuk instan, mungkin dengan sensasi effervescent.
Itulah sekelumit bocoran inovasi berbekal hasil usahatani daun afrika. Jadi semoga Anda setuju, DAIN itu adalah Daun Afrika Inovasi Nusantara

Rabu, 06 Mei 2015

Daun Afrika Ditangani Lembaga Penelitian Terbaik

Daun afrika sudah 3 tahun menemani hari-hari dalam kehidupan saya. Sejak menjadi anggota keluarga, tumbuhan yang oleh ilmuwan diberinama Vernonia amygdalina, memberikan banyak keceriaan, manfaat, sekaligus teka-teki, dan tentunya jawaban keterungkapan.
Pertama kali datang, stek-stek pohon bertunasnya telah disiapkan menjadi pagar rumah. Ketika meninggi, daun afrika berperan sebagai "payung" dari terpaan sinar mentari dan "tembok hijau" dari terpaan angin dan debu.
Lalu setelah misteri terungkap bahwa bitter leaf ini adalah tumbuhan multi-khasiat dengan daya sembuh dahsyat, tegakannya menghijaukan lahan kritis bekas buangan sisa bahan bangunan di seberang rumah. Kebun kerontang pun menjelma menjadi hijau dan produktif. Tanaman ini mampu membiayai dirinya sendiri untuk pengembangan produksi, inovasi, dan sosialisasi.
Sebagai "perkebunan" dengan status fasilitas lingkungan alias lahan warga, daun-daunnya pun boleh diakses dan dimanfaatkan untuk kepentingan umum. Satu per satu tetangga mendapatkan kesembuhan dari penyakit masing-masing. Nyeri sendi, insomnia, tubuh letih, kurang hasrat, sakit kepala dan migrain menahun, diabetes, darah tinggi menahun, jerawat, flu berulang karena daya tahan tubuh lemah, dll. Setelah membuktikan pada diri sendiri, mereka pun bewara kepada handaitaulan.
Eksperimen-eksperimen rumahan pun leluasa karena ketersediaan bahan baku dari kebun sepetak ukuran 20 x 5 meter persegi itu. Teh herbal, kapsul herbal, soft drink, minuman fermentasi, sabun, lulur, makanan kambing, makanan ikan, adalah karya-karya yang dihasilkan dari lahan mini daun afrika itu.
Kini, daun afrika ku akan memasuki fase canggih agar memiliki dasar ilmiah dan teknologi. Para pakar terbaik di bidangnya di Indonesia telah menyatakan mengambil-alih penelitian daun asal benua hitam afrika yang telah lama diadopsi negeri Tiongkok. Dengan penguasaan pada metodologi dan prosedur operasi standar kelas dunia, lembaga penelitian terbaik di negeri ini, akan mengungkap misteri kemanjuran daun afrika yang telah lama dikenal orang dan menemukan cara terbaik pemanfaatan yang lebih andal. Semoga kita bersama dapat mempersembahkan maha karya Indonesia untuk dunia.

Rabu, 08 April 2015

Daun Afrika Naik Daun

2015, daun afrika memasuki babak baru perkembangan isu di Indonesia. Tumbuhan bernama ilmiah Vernonia amygdalina Del. ini telah mulai mendapatkan perhatian para peneliti. Namanya sudah menjadi prasasti dalam skripsi. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia sedang mempertimbangkan mengkaji tanaman ini untuk riset lebih dalam sesuai visi misi LIPI.
Daun afrika, seperti yang sudah saya ramalkan sejak 2 tahun lalu, akan naik daun. Rasanya pahit seperti namanya bitter leaf, kata orang Inggris. Tapi nasibnya manis sekali.
Daun ini ditanam di semua jenis lahan, dari tepi pantai hingga puncak gunung. Keluarga sangat sangat sangat sederhana bisa menanamnya pada pot kecil. Khasiatnya mulai untuk jerawat hingga meningitis, diabetes sampai kanker, darah kotor dan pikiran kotor.
Daun afrika sudah pasti naik daun. Lalu adakah peluang Anda bersama daun afrika untuk ikut juga naik daun? ikuti terus blog ini.